Kirim Naskah

Bazar Buku, Solusi Tambah Koleksi Buku Perpustaakan yang Minim Anggaran
Saat ngopi dengan alumnus Prodi PAI Unugiri, di salah satu warung kopi (Warkop) Bojonegoro, muncul ide perihal perpustakaan yang low bagged –atau minim dana, tetapi tetap bisa menambah koleksi buku. Yakni, melakukan pembelian kala ada bazar buku.
Ide yang muncul tersebut, coba penulis sampaikan kepada mahasiswa. Ia pun mengamininya. Apalagi, pertemuan penulis dengan alumnus tersebut, setelah penulis order buku via online dari bazar yang dilakukan di Yogyakarta belum lama ini.
Sebagai Gambaran, bermodal 50 ribu, penulis sudah mendapatkan dua buku. Ketika penulis lihat bandrol harga normal yang tertera di bawah label ISBN, untuk karya Edi AH Iyubenu berjudul “Yang Maha Sakarepe, Yang Maha Entengah” dijual 55 ribu. Kemudian karya Prof. Abdurrahman Mas’ud berjudul “Paradigma Pendidikan Islam Humanis: Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik” dibandrol dengan harga 70 ribu.
Contoh dua buku hasil membeli via online saat ada bazar terbilang murah plus banget. Apalagi, setelah penulis terima, masih tersegel plastik dan juga original. Tentu, bila dihitung, dengan hanya bermodal 25 ribu untuk satu buku di atas, penulis sudah mendapatkan dua bahan bacaan baru untuk keluarga.
Perpustakaan
Langkah penulis –sebagaimana dalam lead tulisan di atas, kiranya bisa dilakukan oleh perpustakaan. Artinya, perpustakaan yang dari sisi pendanaan minim. Entah di perguruan tinggi (PT), sekolah, madrasah, taman baca masyarakat (TBM), perpustakaan masjid atau tempat ibadah, hingga keluarga.
Bagi penulis, langkah membeli buku murah kala ada bazar buku adalah satu strategi jitu agar koleksi buku perpustakaan bertambah. Ketika koleksi sudah bertambah, tentu pemustaka akan punya motivasi datang dan meminjam koleksi yang dimiliki perpustakaan.
Sebaliknya, bilamana perpustakaan diberbagai jenjang sebagaimana penulis sebut di atas tidak kreatif –untuk mengambil momentum beli buku kala bazar, pemustaka akan jemu. Kok itu-itu saja koleksi yang dimiliki. Bahkan, pertanyaan ‘nakal’ akan dihembuskan pumustaka “Apa tidak punya dana untuk menambah koleksi?”
Guna menghindari pertanyaan di atas, tidak ada salahnya bila pustakawan dan yang diberi wewenang mengelola perpustakaan untuk membeli buku murah saat bazar. Apalagi, selain di bazar buku, buku murah juga bisa didapatkan kala toko buku menggelar diskon pada momentum tertentu.
Seperti book fair, payday sale, hingga kehadiran peringatan hari besar. Terlabih, kini toko buku tidak sekadar berbentuk fisik bangunan. Toko online sebuah penerbit kini juga marak memberi diskon terhadap pembelian.
Sebagai misal @penerbitdivapress melalui toko online resminya, sering memposting buku yang berdiskon mulai dari 25-30%. Bahkan, kala pustakawan mau hadir diarena bazar buku yang digelar, penulis
melihat postingan yang diunggap di ig-nya sangat murah-murah. Mulai dari harga 16 ribu, 20 ribu, hingga 3 ribu. Diskonnya pun bisa tembus sampai 50%.
Penerbit @bentangpustaka, @ircisod, @basabasistore, melalui akun ig-nya, sering pula memberi promo special diskon hingga 50%. Ini artinya, jauh dari harga normal. Tentu, momentum-momentum promosi tersebut pustawakan sebuah perpustakaan kudu rajin-rajin mengecek hadirnya promo.
Beli dari Uang Denda
Bila sebuah perpustakaan di berbagai jenjang terbatas dalam hal penganggaran untuk pembelian koleksi buku, bagi penulis, pembelian juga bisa dilakukan dari uang denda pemustaka yang telat dalam pengembalian. Alternatif lain, juga bisa dilakukan saat siswa-mahasiswa akan lulus untuk memberi sumbangan buku ke perpustakaan.
Sebagai misal, bila mahasiswa di sebuah perguruan tinggi dalam sekali wisuda diikuti sebanyak 1000 mahasiswa, kemudian mereka diminta untuk menyumbang satu buku saja, maka dalam setahun kampus akan memiliki tambahan 1000 koleksi di luar koleksi pembelian special diskon baik online dan offline.
Selain dari pembelian uang denda, lalu sumbangan alumni, pemerolehan koleksi buku juga bisa dilakukan melalui donasi dari guru dan dosen. Bahkan, akan lebih baik bila kemudian koleksi buku karya guru dan dosen mendapat rak tersendiri guna memudahkan siswa-mahasiswa menelusuri karya guru maupun dosen yang dibanggakannya.
Giat Promosi
Setelah perpustakaan memiliki banyak koleksi buku, hal yang perlu dilakukan ada melakukan giat promosi koleksi yang dimiliki. Hal itu bisa dilakukan secara konsisten mingguan atau setiap tiga hari sekali dengan membuat flyer yang kemudian di posting melalui akun media sosial yang dimiliki.
Lalu, mengapa giat promosi koleksi perpustakaan itu perlu dilakukan Tujuannya, adalah memperkenalkan koleksi terbaru yang dimiliki guna menjaring pemustaka untuk hadir, dan senang melakukan aktivitas penelitian hingga baca di perpustakaan.
Selain promosi melalui media sosial, giat promosi juga bisa dilakukan secara offline. Yakni, melalui rak display buku. Tujuannya hampir sama dengan promosi via online, yakni memperkenalkan buku baru kepada pemustaka yang hadir di perpustakaan.
Terlebih, bila display buku yang secara offline terlihat oleh mata, hal itu bisa menjadi alat bantu untuk membiasakan baca. Selain melalui display buku online-offlina, pengenalan koleksi buku juga bisa
dilakukan melalui kegiatan perpustaiment.
Yakni, cara untuk membuat perpustakaan menjadi menyenangkan, sehingga siswa-mahasiswa mendapatkan banyak hal dari keberadaan perpustakaan. Kegiatan perpustaiment bisa dilakukan berbentuk podcast bersama pustakawaan, memperbinjangkan perihal koleksi buku yang dimiliki, prosedur untuk layanan perpustakaan, fasilitas yang bisa didapatkan pemustaka kala gabung, serta partisipasi yang bisa dilakukan oleh pemustaka kepada perpustakaan.
Akhirnya, selain semua kembali kepada kreatifitas pustakawan dan penanggung jawab perpustakaan, yang lebih penting adalah suport penuh pimpinan. Yakni, mengganggap ‘penting’ kehadiran perpustakaan sebagai pilar penyedia literatur atau ‘tidak’ dengan cukup dibiarkan begitu saja kehadirannya.
* Pegiat Literasi dan Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri.

