Kirim Naskah

Buku, Jendela Dunia yang Mulai Terlupa
penaabadi.com-Hari ini (23/4), diperingati sebagai Hari Buku Sedunia (HBS). Jika “buku” diperingati, keberadaannya tentu penting bagi siapa saja. Secara kasat mata, dan tanpa menggunakan kutipan literatur mana saja, buku diperingati sebab ia menjadi sumber pengetahuan.
Coba saja bila pembaca beli buku, lalu dibaca, tentu apa yang dibaca akan menerangi kita. Ketika hasil bacaan telah kita ketahui, artinya kita tercerahkan dan menjadi berpengetahuan.
Momentum HBS ini, pertanyaan klasik namun kudu dimunculkan kekinian adalah, sudah berapa buku kita beli? Pertanyaan ini penting, karena tidak sekadar menyasar kaum tertentu. Yaitu, bersekolah-kuliah dan berpendidikan tak berpendidikan. Melainkan, siapa saja yang bisa membaca, keinginan untuk membeli buku kudu digelorakan.
Perihal membeli buku, memang kudu di-emenke (sungguh-sungguh) diperjuangkan. Sebab, akan timbul efek perbuatan “tidak membaca” oleh sebab tidak dimiliki buku sebagai sumber bacaan. Tentu, bila kita ingin membaca, sementara tidak memiliki buku, membaca tidak akan terjadi seketika itu atau selamanya.
Hal yang sama juga bisa terjadi, manakala kita menyuruh orang untuk membaca, solusinya kasih saja buku. Alhasil, orang tersebut akan membaca tanpa melontarkan pertanyaan “Mana bukunya, katanya diminta membaca?”
Jika demikian, mengalokasikan membeli buku baik datang langsung ke toko buku atau via online, adalah hal yang tidak bisa ditawar. Sebab, dengan membali buku, artinya kita menjadi pribadi –yang dari diri sendiri, ikut memperingati HBS secara konkrit.
Membaca
Setelah membeli buku dan memiliki koleksi buku pribadi, Langkah berikutnya adalah membudayakan baca. Dari mana pertanyaan dasarnya? Tentu dari sendiri. Diri ini, perlu kita ajak berjuang untuk istikamah membaca koleksi buku yang kita miliki. Di mana tempatnya? Di mana pun berada kita usahakan membaca buku untuk kemudian membaca.
Celakanya, di mana pun kita berada, buku tidak bersama kita. Entah sengaja ditinggal, atau oleh sebab tertinggal. Celaka berikutnya, dominasi gadget menjadi yang primer kita bawa ke mana-mana.
BACA JUGA: Bazar Buku, Solusi Tambah Koleksi Buku Perpustaakan yang Minim Anggaran
Bahkan, yang agak ekstrim, nyanyian kala kita kecil “Bangun tidur Ku terus mandi, Tidak lupa menggosok giri” berbanding terbalik dengan realitas kini. Sebab ketika kita bangun, bukan terus mandi. Melainkan, melihat gadget yang diteruskan dengan membalas whatsapp. Jika kemudian dilagukan “Bangun tidur Ku lihat gadget, tidak lupa membalas WA”.
Setelah diri terbiasa membaca, berikutnya adalah mengajak keluarga. Dalam hal ini istri, anak. Lingkup keluarga ini penting, sebab ia menjadi miniatur kecil masyarakat. Gampang-nya, untuk menjadikan Kabupaten Bojonegoro kesadaran literasinya tinggi, tidak sekadar mengukur ketercapaian membaca di lembaga formal –dalam hal ini lembaga pendidikan.
Di lingkup keluarga juga harus mendapat perhatian. Dengan apa, melalui pertanyaan apakah saya –sebagai suami atau istri, sudah mengajak keluarga membaca? Jika pertanyaan sederhana di atas terjawab, “Iya, saya sebagai suami atau istri telah mengajak keluarga membaca setiap habis isya’” sebagai misal, artinya siklus membaca di lingkup keluarga terwujud.
Pertanyaan untuk mengkampanyekan membaca, bisa kita teruskan kepada tetangga, “Apakah saya sudah mengajak tetangga untuk membaca?” Jika jawabannya belum, artinya PR kita adalah mengajak tetangga kita membiasakan membaca buku. Bila kemudian jawabannya sudah, berapa tetangga yang sudah berhasil kita ajak untuk membudayakan baca di lingkup keluarga.
Akhirnya, dari diri sendiri yang senang membaca, kemudian diteruskan keluarga yang akhirnya juga senang membaca, lalu dilanjutkan kepada tetangga-tetangga kita –depan, belakang, kanan dan kiri sudah membudayakan baca, maka bisa kita tarik kesimpulan sederhana, bahwa di dusun atau kelurahan di desa kita, budaya membaca sudah terpetakan by data. Yakni, pada Rt ini dan Rt ini sudah ada sekian keluarga yang aktif membaca.
Sebagai pertanyaan pemantik, “Kampanye atau ajakan membaca pembaca budiman, sampai level mana? Apakah level diri, keluarga, dan tetangga sudah tuntas? Atau justru sebaliknya! Monggo silahkan dijawab dengan kejujuran dan kerendahan hati panjenengan semua.
* Usman Roin, Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam Unugiri.

